Minggu, 13 April 2014

Puisi - Simpanlah Untukku

Aku meminta tolong kepada engkau.

Tak berat bagi engkau saat ini.

Aku meminta tolong kepada engkau.

Tentu saja ringan bagi engkau saat ini.


Aku mempunyai sesuatu yang harus engkau simpan.

Entah akan engkau jadikan tulisan.

Entah ekan engkau letakkan.

Entah akan engkau masukkan.

Entah akan engkau tutup.

Aku mempunyai sesuatu yang sepatutnya engkau simpan.


Aku meminta tolong kapada engkau.

Sesuatu yang mudah tersinggung.

Sesuatu yang mudah cemburu.

Sesuatu yang mudah sakit.


Aku meminta tolong kepada engkau.

Sesuatu yang mudah canggung.

Sesuatu yang mudah merindu.

Sesuatu yang mudah terlilit.


Ini namanya hati.

Inilah namanya hati.

Sesuatu inilah yang aku ingin engkau simpan.

Ini namanya hati.


Esok...

Jangan engkau ceritakan kepada orang lain.

Karena hati ini bagi engkau adalah malu.

Karena hati ini bagi engkau adalah tabu.



Tapi tolong...

Aku ingin engkau simpan hati ini.

Karena hati ini hanya satu.

Hanya untukmu.

Dan aku ingin hanya engkau yang menjaga hatiku.

Minggu, 30 Maret 2014

Puisi - Tiga Waktu

Udara dan harum ketika pagi

Ada hening yang tak terwujud

Karena mentari bukan hamba

Karena kamu hanyalah sebuah pesona


Cerita dancanda ketika sore

Ada puluhan doa dari seorang pemuja

Meski mendung bukan hamba

Tapi kamu hanyalah sebuah pesona


Renungan dan harap ketika malam

Ada resah bersama ketakutan

Hingga semua bintang tak menjadi hamba

Tapi aku terus menjadikanmu sebuah pesona


Ketika yang terjadi itu sebuah rasa yang ditinggalkan

Maka aku akan merebut dengan sisa perjuanagn

Karena itu bukanlah sakit


Seperti itulah aku


Namun...

Dari setengah perjalanan kau beri sebuah pelukan perih

Tanpa berbisik dan beri sesuatu yang lebih sakit dari perpisahan

Karena kamu telah melupakan

Dan karena melupakan itu lebih sakit dari hanya sebatas perpisahan



(Ranu Regulo - 23 Maret 2014)

Jumat, 14 Februari 2014

Kehilangan Suara

Bersama atas doa dari pemuja
Hingga hilang arti Sang Penguasa
Kembali ingin menuturkan cerita
Namun sekali hilang suara

Bersama atas rindu dari pencinta
Hingga cemburu dari Sang Pencipta
Memeluk membisikkan rasa
Namun sekali hilang suara

Bersama atas setia dari kesatria
Hingga murka bagi Sang Pemilik Jiwa
Ingin lantang kobarkan asa
Namun sekali hilang suara

Ini bukan doa ibuku ketika pulang
Ini bukan titipan ibuku setelah mendapat ciuman
Ini bukan mimpi ibuku sesaat aku hilang
Ini bukan harapan ibuku ketika melepaskn pelukan

Aku kehilangan suara
Aku kehilangan suaraku
Aku kehilangan Periuk Suaraku

Minggu, 22 Desember 2013

Aku dan Yang Pertama

Seperti merasakan yang pertama.
Seperti gadis kecil yang menunggu boneka.
Seperti para istri menunggu suami pulang kerja.
Seperti tahanan berharap remisi setiap tahunnya.

Semua kenyataan dinilai dari pertemuan.
Semua perasaan dihargai dari pertemuan.

Aku menjadi anak kecil yang takut kehilangan.
Setiap waktu gelisah melihat sekitar memantau keadaan.
Membawa yang dipeluk erat takut dicuri orang.
Selalu melihat kondisi agar tak hilang.

Itu setiap hari.
Itu setiap waktu.
Itu selalu hati.
Itu selalu kamu.

Dari setiap kata sayang yang aku sakralkan.
Disitu terletak siapa aku yang membutuhkanmu.
Dari semua kata rindu yang aku sakralkan.
Disitu ada hati yang menyayangimu.

Hingga beberapa perasaan yang menyakitkan.
Aku tahu siapa aku.

Kamis, 29 Agustus 2013

Puisi - 29 Awal

Memang seperti yang tua dan tak punya apa apa
Menyapamu saja adalah sebuah keajaiban dan renungan
Memilikimu adalah sebuah proses dan kesempurnaan
Menjagamu adalah sebuah tanggung jawab dan keharusan

Hingga kita bermain di taman yang kita anggap itu inggris
Dengan suara air yang tak berirama namun erotis
Kita percaya untuk menambahkan cerita di negara inggris sebenarnya

Hingga kita menggambar dalam sebuah kanvas yang tak simetris
Berharap tahun depan menggelar pamera berdua yang fantastis
Kita percaya untuk bersama wujudkan itu berdua

Hingga kita selalu bersama dalam berbagai acara yang manis
Kau temani aku selalu dalam pekerjaanku diluar akademis
Kita percaya untuk jadikan itu sebagai penguat asmara

Sampai saat ini hanya itulah yang aku rindu dengan sosokmu

Sabtu, 24 Agustus 2013

Puisi - 29 Pertengahan

Kemudian setelah itu menjadi  hati
Melalui dengan cerita karena kau berfikir kita seakan akan dengan masa yang lama
Aku juga demikian dan terus menjadi hati
Karena ketahuilah aku yang dengan salah mencinta berlebihan yang aku puja

Jika memang duniaku uang keliru
Jika memang caraku tak pernah pantas jadikan satu
Aku kira akan sayang ketika bersama, ternyata aku salah
Aku kira akan rindu ketika berjauhan, ternyata aku salah
Aku kira akan memahami ketika keliru, ternyata aku salah
Aku kira akan ada nasehat ketika khilaf, ternyata aku salah
Aku kira akan ada maaf ketika salah, ternyata aku salah

Ternyata aku salah, itu tak berlaku dalam duniaku
Ternyata aku salah, itu tak sekongkol dengan ceritaku
Ternyata aku salah dan ternyata aku salah

Lihat sekitarmu
Ada juga yang sakit terjatuh
Namun tak sama sepertiku

Puisi - 29 Akhir

Inilah perihal cerita persembahan semesta
Bermula dari pertemuan dan sapaan singkat ketika hari itu
Indahnya malam kala itu memang terasa
Hingga suara bisingpun tak mampu hentikan takjub sedari itu

Benar kasih, inilah yang dinamakan pertemuan sebenarnya
Karena memang seharusnya kau pilih tangan lembut yang berbeda
Meski aku tak akan pernah mengerti kenapa
Beberapa tekanan aku harus memahami
Bermacam nyanyian pelepas rindupun aku harus mengerti

Jika rasa terasa mudah dan tak harus aku pahami
Maka itulah sebenarnya alasan aku membiarkanmu pergi
Hanya saja itu bukanlah kesenangan yang aku sengaja
Namun aku tak ingin engkau berberat rasa

Indah jelas selama berbulan bulan aku menjadikanmu sosok yang terbaik
Melebihi lamunanku semenjak aku yang hanya diam
Semenjak aku yang hanya bungkam
Juga selama aku ketika engkau tak pernah mengenal pelukan ini

Terjadilah dimana waktu memilihmu untuk mengajakku lebih baik
Dengan suara yang selalu menungun untuk menjaga rasa saat itu
Atau memang sebenarnya tak mudah bagi kita untuk berjalan berdua
Karena egois ini yang selalu melebihkanmu

Dan terjadilah dimana waktu memilihmu untuk mengajariku berjalan sendiri
Sulit bagi kaki ini yang telah terbiasa menjadi pasang kakimu ketika berjalan
Atau suara ini ketika kita berandai andai untuk mengikat hati jauh lebih kuat
Karena egois inilah yang selalu menyakitimu

Ketahuilah sekarang aku tetap minyiksamu
Menjadikanmu tetap bermain dalam otak ini dan selalu bersamaku
Menjadikanmu tetap menjadi sosok yang marah ketika aku angkuh
Menjadikanmu tetap menjadi wanita yang akan menyusui anak kembar kita
Menjadikanmu tetap dan selalu ingatkanku akan jadwal pekerjaanku
Bahkan selalu menjadikanmu sosok yang akan mengambilkanku obat disaat sakit

Hingga saat ini aku menyiksamu dalam otakku
Meski bukan mata yang bertemu saat berkeinginan untuk bertukar cincin
Meski bukan air mata yang menetes saat saat mengakui kesalahan
Meski bukan jari tangan yang memegang erat saat berjalan merajah kota
Meski bukan hati yang saling mendoakan agar tetap bersama sampai tua

Engkau masih punya harapan besar untuk menjadi wanita yang baik
Yang lebih baik daripada aku yang tak bisa mengertimu

Dan maaf hingga saat ini aku menyiksamu di dalam otakku